1.
Menurut cognitive theory of multimedia
learning bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu
multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut dengan memberikan
contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran kimia.
2. Jelaskan
bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu
multimedia pembelajaran kimia
Jawab:
1.
Tiga asumsi yang mendasari teori kogitif tentang multimedia
learning, yakni: dual-channel
(saluran ganda), limited-capacity (kapasitas terbatas), dan active-processing
(pemrosesan-aktif).
1)
Asumsi Saluran-ganda
Asumsi saluran-ganda (dual-channel
assumption) beranggapan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan
informasi untuk materi visual dan materi auditori. Manusia memahami suatu
informasi yang didapat melalui citra auditori dan citra pictorial. Pemahaman
yang diproses melalui kedua saluran tersebut dan mempresentasikan serta
menyimpannya dalam memori jangka panjang.
2)
Asumsi Kapasitas-terbatas
Manusia bukan mesin atan super
komputer, semua inforamasi yang diperoleh akan diolah, dipadukan, dan
diintegrasikan dengan kapasitas otak. Semua informasi yang masuk tidak
bisa diolah dan disimpan secara langsung ke otak. Beberapa dari informasi akan
diolah menjadi sesuatu yang padu dan dapat dipahami.
3)
Asumsi Pemrosesan aktif
Manusia secara aktif melibatkan
dirinya dalam pemrosesan aktif untuk mengkonsstruksi representasi mental yang
saling terkait terhadap pengalaman mereka. Proses kogitif aktif ini
meliputi: memberikan perhatian, menata informasi yang masuk dengan pengetahuan
lainnya. Pendeknya, manusia adalah prosesor aktif yang menalar dan memasuk
akalkan setiap informasi yang ada. Manusia bukan prosesor pasif yang hanya
menerima merekam sesuatu dan menyimapnnya di memori dan dapat diputar olah
kapan saja.
CTML menerima model bahwa terdapat tiga struktur penyimpanan yang dikenal sebagai sensory memory, working memory, dan long-term memory. Sweller (2005 dalam Sorden, 2005) mendefinisikan sensory memory sebagai struktur kognitif yang memungkinkan kita untuk melihat informasi baru, working memory sebagai struktur kognitif dimana kita secara sadar memproses informasi, dan long-term memory sebagai stuktur kognitif yang menyimpan basis pengetahuan kita. Mayer (2005a dalam Sorden, 2005) menyatakan bahwa sensory memory memiliki 1) visual sensory memory yang secara singkat memegang gambar-gambar dan printed text sebagai gambar visual (visual images); dan 2) auditory memory yang secara singkat memegang kata-kata lisan (spoken words) dan suara (sounds) sebagai auditory images.
Schnotz (2005 dalam Sorden, 2005) mengacu kepada sensory memory sebagai sensory registers atau sensory channels
menunjukkan bahwa meskipun kita cenderung untuk melihat dua saluran
sensoris yaitu mata untuk memori kerja visual dan telinga untuk memori
kerja auditory, bahwa adalah mungkin ada saluran sensori lainnya untuk
memperkenalkan informasi ke memori kerja seperti “membaca” dengan jari
melalui huruf braile atau orang tuli dapat “mendengar” dengan membaca
bibir. Memori kerja hadir untuk menseleksi informasi dari sensory memory untuk pengolahan dan pengintegrasian. Sensory memory
memegang salinan sensori dari apa yang disajikan kurang dari 0.25
detik, sementara itu memori kerja memegang salinan sensori yang
diproses dari apa yang disajikan umumnya kurang dari tiga puluh detik
dan dapat memproses hanya beberapa potong bahan pada satu waktu (Mayer
2010a dalam Sorden, 2005). Long-term memory memegang seluruh penyimpanan dari pengetahuan seseorang untuk waktu yang lama.
Contoh media
pembelajaran kimia yang digunakan dalam pembelajaran dapat berupa kartu game,
papan deret Volta, atau dengan media computer berbentuk animasi. Media
pembelajaran kelarutan, hasil kali kelarutan, dan koloid dapat menggunakan
media komputer yang mendukung animasi sehingga memudahkan siswa dalam
pemahaman. Materi kelarutan dan hasil kali kelarutan banyak terdapat konsep dan
hitungan kimia sedangkan materi koloid berupa konsep-konsep kimia. Media
pembelajaran yang dapat digunakan berupa animasi percobaan pada media komputer
sehingga siswa memahami konsep-konsep. Selain itu, animasi komputer tersebut
dapat dilengkapi dengan soal-soal untuk melatih pemahaman materi yang disajikan
secara menarik sehingga mendorong siswa untuk berlatih dengan suasana yang
lebih menyenangkan.
2.
Teori dual coding yang dikemukakan
Allan Paivio (Paivio, 1971, 2006) menyatakan bahwa informasi yang diterima
seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal
seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image)
seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat
berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu
bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi
tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal
memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal
memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Aktivitas berpikir dimulai ketika
sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan,
baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan
representatif (representational connection) terbentuk untuk
menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima.
Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan
logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi
dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat
dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari
wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal
disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses
melalui channel nonverbal disebut imagen.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan
memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat
ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue, (?)). Sebagai contoh, informasi
yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang
relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada
informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara
saja, atau ilustrasi saja.
Menurut teori Dual Coding yang
dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan informasi
tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan
Sweller tahun 2003 dalam (Ma, (?)) telah melakukan sebuah riset untuk melihat
apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu
kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram
lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu
menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang
belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang
belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk
bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang
belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan
dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki
tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan
prestasi yang signifikan.
Sebagai tambahan kesimpulan dari
teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana
seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini
mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan
pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior
knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang
memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang
lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek,
sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja
lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
Teori Dual Coding juga
menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang
digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal
dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti
berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari
beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal)
dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak
pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.